Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email

DIbalik Ruang Hati

Senin, 03 September 2012

Pukul sudah menunjukkan 00.30 malam dan aku masih berkutat di depan laptop biruku. Karena tadi siang tidur sangat pulas jadinya malam ini aku belum merasakan ngantuk sama sekali. Padahal biasanya kalau jam segini ya paling nggak matanya udah minta jatahnya untuk istirahat dari keseharian dan rutinitas yang cukup melelahkan diri. Jadinya ya lakukan apa yang bisa dilakukan saja.

Ingin rasa hati untuk berbagi hal yang pernah dan pasti dirasakan oleh semua insan manusia. Gak ada yang gak pernah. Karena memang itulah fitrahnya manusia. Fitrah untuk saling memenuhi kebutuhan hidup, saling menghargai karena manusia yang tidak ingin keberadaannya dihargai dan diakui. Terutama fitrah berkasih-sayang. Sedikit saja mungkin yang bisa kuceritakan kali ini. Sejenak hanya untuk mengingatkan pribadi yang khilaf ini dan semua orang yang merasa apa yang ditulis ini bermanfaat.

Terkadang kita sadari ataupun tidak ada hembusan kasih sayang yang melekat dalam jiwa dan hati kita. Melesat bak anak panah dan menghujam dengan kerasnya. Syukur kalau itu dalam batasan yang normal dan pada orang-orang yang memang diperintahkan oleh Allah swt. Orangtua, kakak-adik kandung, maupun keluarga yang masih memiiki hubungan darah. Sayang kini banyak diantara kita dan mungkin itu kita sendiri yang terjebak dalam kasih sayang yang semu. Apalah itu namanya. Mau dibilang cinta, kasih sayang atau ada kata yang lebih mempersentasikan rasa tersebut silahkan saja. Tapi ya ini tidak bisa kita pungkiri. Meski kita mencoba berkata tidak tetap ada hembusan cinta yang memang tidak wajar mengalir dalam aliran darah disetiap hembusan nafas. Wuih... Puitis banget dah. Namanya orang yang dilanda cinta ya seperti ini. Tiba-tiba setiap kata yang dilantunkan menjadi indah dan menarik untuk didengar.

Tapi teman, kewajaran itu memang fitrah dan Allah adalah Yang Maha Pengasih dan Penyanyang juga bersifat demikian. Lantas ketika rasa cinta tumbuh dan bermekaran di jiwa itulah fitrahnya. Namun jangan sampai mekarnya itu menimbulkan duri tajam yang bisa melukai diri. Maka caranya jangan biarkan ia bermekaran dalam jiwa. Biarkan ia datang dengan tiba-tiba merasuk dalam lubuk jiwa dan rasakan bahwa inilah cinta semu yang bisa membuat kita bahagia juga bisa membuat kita kecewa. Satu-satunya cinta yang hakiki hanya kepada-Nya. Hanya Kepada-Nya.


Saat ini berapa banyak anak muda yang terkena virus cinta hingga melebihi dosis yang dianjurkan. Membuat pikiran melayang tidak karuan, kejernihan jiwanya menjadi keruh karena hampir seluruh ruang dalam jiwa dan hatinya hanya ada pada cinta semu yang seolah-olah ingin kita miliki selamanya. Sekali lagi rasa cinta itu fitrah asalkan pada batasan-batasan yang dibolehkan. 

Saya pribadi juga tidak mungkin berbohong kalau tidak pernah mengalami hal seperti ini. Rasa cinta semu pada yang bukan semestinya memang ada sensasi yang bisa menimbulkan berbagai macam efek. Tiba-tiba ketawa sendiri, kemudian seolah-olah ada bunga yang berjatuhan dari langit dan membentuk bentukan yang indah dipandang dan lainnya. Tapi disisi lain, kadang airmata menetes dengan sendirinya. Tak terasa ada guncangan dalam jiwa yang tak bisa ditahan. Selalu terjadi. Tidak hanya sekali dua kali. Sering bahkan aku alami ketika dahulu.

Maka aku memahami persoalan yang terjadi pada hal ini. Sebagian orang kadang heran mengapa ada orang seperti itu. Tapi ya inilah. Setiap individu memiliki karakter dan warna jiwa yang berbeda-beda. Jangan disamakan. Apalagi sampai menyalahkan. Bukan berarti kita membiarkan mereka larut dalam cinta semu yang bisa menjerumuskan mereka dalam jurang nan hitam dan kelam. Tapi ada waktu yang tepat kapan kita menyentuh hati mereka. Begitupun yang aku rasakan.

Sekali lagi. Memang ada orang yang sangat mudah terjebak dalam cinta semu dengan tingkah dan pola penyikapan yang berbeda-beda. Ada yang berani mengungkapkan. Ada yang berani tapi lewat surat atau SMS. Ada yang malah hanya diam dan menikmati indahnya dalam sikap diamnya.

Alasan mengapa tulisan ini dirangkai juga karena hal itu. Tiba-tiba cinta semu menyelinap masuk dalam ruang hati tanpa permisi. Satu hal yang ingin saya bagi dari tulisan ini adalah apa yang seharusnya kita sadari dan pahami bersama dalam penyikapan terhadap cinta semu tersebut. Ini berdasarkan pengalaman yang terjadi semenjak dahulu hingga kini. Secara yakin saya katakan hal yang menjadi barrier atau tembok ketika kita hampir jatuh dalam lubang syaithan ini adalah Kedekatan dan Keimanan kita kepada Allah. Karena Allah punya cara agar kita tetap berada dalam lingkaran kebaikan. Meski tidak saya pungkiri rasa itu tetap ada. Tapi seolah-olah karena keimanan kita kepada Allah semuanya bisa menjadi tenang. 

Karena ada beberapa orang dengan warna jiwanya sangat terganggu pikiran dan jiwanya oleh cinta semu tersebut. Maka Allahlah tempat yang seharusnya kita tuju dikala senang dan juga sedih. Jangan hanya dikala sedih kita baru mendekat kepada-Nya. Ntar malah diberi kesedihan terus bisa barabe urusannyakan. Maka dekatkan hati kita kepada Allah. Tanamkan bahwa Allahlah yang patut kita cintai diatas segalanya. Cinta hakiki adalah cinta kepada yang menanamkan rasa kasih-sayang dalam jiwa manusia. Siapa lagi kalau bukan Allah swt.

Cinta kepada Allah maka kita tidak akan pernah dikecewakannya. Dialah muaranya cinta. Kerinduan terbesar kita adalah kepadanya. Penuhi ruang dalam hati dengan dzat-Nya Yang Maha Rahman dan Rahim. Sudah yang sekaran masing dalam lingkaran cinta semu (pacaran), ayo putuskan saja. Untuk apa karena ianya hanya menmabah kemaksiatan kita kepada Allah. Kalau mau dan sesuai yang syariat maka segera ambil tindakan. Putuskan atau langusung nikahi. Karena inilah yang dianjurkan kepada kita...

Terakhir bagi pengembara cinta semu. Sudahi saja pengembaraan kita. Hentikan kecuali pada jalur yang hala l, yaitu melalui pernikahan. Jika tidak maka segera ambil tindakan yang saya sebutkan tadi. Sulit. Memang sulit. Makanya ayo kuatkan diri kita. Sering-sering merenung bahwa sesunggunhnya hanya kepada Allah tempat kita meletakkan rasa cinta baik yang cintanya kepada orangtuanya, saudara kandungnya, istrinya, untuk pacar tidak ada karena memang tidak dibolehkan. 

Semoga Allah memberi kesempatan kepada kita untuk memandang wajah-Nya. Bukankah itu yang menjadi impian terbesar kita. Ayo dekatkan diri kita kepadanya. Sudahi yang lagi pacaran. Pahami bahwa Allahlah sumbernya cinta dan yang menanamkan rasa cinta didalam jiwa manusia. Maka mari kita letakkan cinta kita kepada yang makhluk-Nya atas dasar kecintaan kita juga kepada Allah. Caranya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.

Just it I can share here. Apologize me if there are something false in this article...

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © -2012 Alfajar_27 Weblog All Rights Reserved | Template Design by Favorite Blogger Templates | Blogger Tips and Tricks